Stratovarius, Isu Tsunami Gempa Bantul Yogya

By: wanawotvideo

494 views

Uploaded on March 08, 2007 by wanawotvideo Powered by YouTube

Sabtu, 27 Mei 2006. Ini cerita singkat saya, salah satu sukarelawan pada hari pertama gempa Jogja. Saya tercatat sebagai anggota Global Rescue Network (GRN) yang bekerja di posko GRN Lhoong, Aceh dan sebagai dokter yang dikirim hari ke-2 setelah gempa Nias tahun lalu untuk melalukan serangkaian evakuasi disana sebelum tim inti GRN dengan mobil 4x4nya dapat masuk ke pulau Nias.

Saya berdomisili di Wodonga, Australia. Perjalanan kali ini ke Indonesia atas permintaan Lody Korua, korlap GRN untuk Jogja dan Jateng. Tugasnya adalah memantau Merapi ketika statusnya menjadi "awas".

Sabtu pagi yang dingin saya terbangun dengan tubuh yang segar dan semangat baru. Pagi itu kami telah menjadwalkan untuk kembali ke Jakarta setelah masa tugas memantau gunung Merapi selama 3 minggu. (Saat itu posko GRN berada di Salam, Magelang). Tim kami yang terdiri dari 4 orang segera berkemas dan menyiapkan sarapan agar dapat berangkat pagi itu.

Saat itu, belum pukul 6 pagi, tiba-tiba terjadi gempa. Pengalaman kami menghadapi gempa di Aceh, Medan dan Nias membuat kami cukup mampu memperkirakan kekuatan gempa yang kami hadapi... 6 SR!! Gempa itu begitu kuat sehingga Land Rover GRN yang telah di isi penuh dengan barang2 rescue dan posko kami sampai bergerak berguncang-guncang. Gempa itu terasa sangat lama dan benar2 menakutkan, membuat kami semua berlarian ketempat terbuka yang aman.

Saat gempa itu reda, kami masih terpaku beberapa saat dan pelan2 mulai bisa mengamati lingkungan kami dengan lebih baik. Kami lihat gunung Merapi di kejauhan mengeluarkan awan panasnya. Kami bisa mulai bercerita mengenai posisi kami saat gempa dan bagaimana kami menghadapinya. Kami melihat kondisi rumah yang dijadikan posko, hanya 1 genteng jatuh. Kemudian teman 1 tim kami memutuskan untuk berkeliling posko melihat kondisi rumah dan orang2 di sekitarnya.

Sementara mereka berkeliling, teman lain mencoba melakukan pembicaraan radio mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi, tapi tidak ada yang mengudara saat itu. Saya mencoba menyalakan TV untuk mencari berita tetapi ternyata lampu mati, listrik tidak ada. Saya lalu sms Lody Korua dan beberapa teman di kota2 lain mengabarkan tentang gempa yang cukup keras itu.

5 menit kemudian seorang teman mengabarkan gempa terasa sampai di Solo. Teman lain juga menghubungi, gempa juga terasa sampai di Probolinggo. Wah...kami jadi bertanya-tanya, dimana pusat gempa itu sebenarnya? Karena pasti dipusat gempa dan sekitarnya terjadi kerusakan bangunan yang parah dan kemungkinan ada banyak korban.

20 menit kemudian Lody Korua menelpon. Berita di TV pagi itu mengatakan pusat gempa berada di Laut Selatan. Dia meminta kami untuk segera ke Jogja karena disana banyak gedung runtuh dan korban berjatuhan. Kami juga diminta mengabarkan andaikan dibutuhkan tim lengkap GRN untuk segera berangkat ke Jogja membantu hari itu juga. Kami yang berada di Sleman, kaget dengan berita itu. Setelah selesai sarapan, tanpa mandi, kami langsung menurunkan sebagian besar barang2 kami dari mobil dan hanya dengan peralatan rescue segera menuju Jogja.

Hampir memasuki kota Jogja, jalan yang semula 2 arah tiba--tiba telah menjadi jalan 1 arah didepan kami. Arus kendaraan dari Jogja sangat banyak sehingga kendaraan dari arah Magelang tidak bisa bergerak maju lagi. Banyak pengendara2 motor itu yang berteriak ketakutan: "Air naik, air naik!". Lain pengendara motor berteriak: "Tsunami, tsunami! Lari!!" Suasana sangat mencekam saat itu. Kami segera memutar mobil kami kembali kearah Magelang, menunggu dan mengamati keadaan di pinggir jalan itu sambil tetap berusaha mengadakan hubungan radio, tetapi tetap tidak ada yang mengudara saat itu. Kami lalu menelpon teman2 di Jakarta meminta mereka memantau berita Jogja dan sekitarnya untuk kami. Banyak orang yang kebingungan, singgah dan bertanya kepada kami, tetapi kami juga sendiri tidak tau apa yang terjadi saat itu. Kami hanya bisa menatap ke arah kota Jogja dan orang2 yang panik disekitar kami dengan bingung, tidak tahu harus berbuat apa. Sepengetahuan kami tsunami akan segera datang setelah gempa, bukan 1 jam sesudah gempa. Suasana ketakutan orang2 itu membuat perasaan kami juga tidak karuan.....ikut takut, bingung dan bertanya-tanya apakah tsunami benar2 ada. Kalo ada, kenapa tsunami kali itu menyimpang dari teori? Banyak sekali pertanyaan, ketakutan dan kesedihan dihati kami melihat situasi masyarakat saat itu.

Arus kendaraan sudah jauh berkurang, sekitar jam 10.00 pagi. Saat itu Ferdy, teman 1 tim kami bertanya: "Kita maju?" Saya mengiyakannya dengan 1 anggukan kepala. Itu keputusan yang berat, memasuki suatu kota yang ditinggalkan karena orang-orang berteriak tsunami. Jangan-jangan kami kesana hanya untuk mengantarkan nyawa saja. Tetapi itu harus dilakukan, kami harus melihat apa yang terjadi di kota itu.

Tags:
Jogjakarta, Earthquake, Gempa, Bantul, Yogyakarta, Indonesia, People & Stories
Comments on Stratovarius, Isu Tsunami Gempa Bantul Yogya

RECOMMENDED CHANNELS